MELEPAS MAMA
Sabtu 15 Oktober 2016, entah mengapa hari itu suasana terasa beda
dari biasanya. Sejak membuka mata, saya seperti tidak ingin beranjak dari sisi
mama yang terbaring sakit. Hari itu ada firasat yang tidak berani diartikan,
rasanya aneh. Lalu saya teringat malam-malam sebelumnya ketika mama mengatakan "mama sudah tidak kuat lagi, tapi
jangan bawa mama ke Rumah Sakit, jangan bawa mama jauh dari rumah". Dengan
suara yang pelan dan terbata-bata, saya kira saat itu mama sedang memohon untuk
membiarkan mama tetap di rumah. Mungkin mama sudah tahu waktunya tidak akan
lama lagi bersama kami. Saya masih ingat bagaimana rasanya ditinggalkan,
bagaimana ayah pergi subuh itu. Lalu apakah mama juga akan pergi secepat ini?
Memikirkannya tentu membuat hati terasa sesak dan sedih.
Hari itu saya menangkap kegelisahan dan tatapan penuh kesedihan
dari mata mama. Walaupun tanpa kata, saya bisa merasakan apa yang ingin mama
sampaikan. Tapi apa daya, saya hanya seorang anak yang tidak ingin merasakan
kehilangan lagi. Apalagi harus kehilangan sosok mama yang selama ini selalu
bersama dan menjadi penyemangat. Sosok mama yang superwomen. Sosok mama yang
selalu manis di mata saya. Perasaan yang aneh membuat saya mencoba melawan
firasat bahkan rasa takut jelang detik-detik kepergian mama. Melawan dengan
membalikan firasat bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa mama masih akan tetap bersama kita hingga
waktu yang lama. “tidak Tuhan! Mama harus
sembuh! Mama jangan dulu pergi! Mama masih akan bersama kita…”.
Sore menjelang magrib, kondisi mama berubah dengan drastis
bersamaan dengan suara tarhim dari mesjid yang tidak jauh dari rumah. Melihat
kondisi mama yang berubah, seorang kerabat mengatakan mungkin ini sudah waktunya. Mari
kita tenang dan melepaskan mama dengan teduh, melepaskan mama dengan tahlil dan
kalimat-kalimat tauhid. Bagi kalian yang pernah kehilangan orang-orang tercinta,
tentu tahu bagaimana berat dan sakitnya berada dalam situasi seperti itu.
Situasi ketika kalian tahu waktu kalian tidak akan lama lagi bersama orang yang
kalian cintai. Situasi itu bahkan bisa membuat kita melawan logika dan Tuhan.
Jelang kepergian mama, saya hanya bisa terdiam di
depan tubuh mama yang sedang menghadap ajalnya. Saya seperti tidak berdaya
diperhadapkan dengan kenyataan akan kehilangan orang tercinta untuk kedua
kalinya. Saat itu kamar terasa senyap, yang terdengar hanya tahlil dan
kalimat-kalimat tauhid melepas kepergian mama. Sekeras apapun saya mencoba
melawan kenyataan, tetap saja saya hanya manusia yang tidak bisa melawan
kehendak sang khalik. Lalu… Innalillahi wainna illahi rajiuun… mama
menghembuskan napas terakhir bersamaan dengan adzan magrib. Seketika suasana
senyap berubah menjadi isak tangis dan kesedihan yang mendalam. Di hadapan saya
mama menutup mata dan terdiam untuk selamanya…
Selamat jalan mama.., selamat jalan nona manis tersayang... Kisah
kita berakhir di waktu magrib, bukan berarti akhir dari rasa sayang dan rindu,
bukan berarti pudar dan payah pada hari esok, bukan berarti berhenti mengenang.
Mama tentu akan selalu ada di hati dan ingatan kami. Mama akan terus menjadi
inspirasi bagaimana menjalani hidup untuk saling berbagi. Mama akan terus
menjadi “tuang hati jantong” di dalam
hati-hati kami. Sampaikan salam untuk ayah saat mama bertemu disana. Katakan pada
ayah kami sangat rindu…
Melepas mama tentu sangat menyakitkan dan butuh keberanian besar
untuk ikhlas. Butuh kekuatan besar untuk melalui hari-hari tanpa mama.
Terima kasih mama.
Terima kasih sudah menjadi mama seorang saya.
Terima kasih untuk semua waktu mama bersama saya.
Terima kasih untuk semua rasa-rasa yang ada di dunia ini, yang
mama berikan kepada saya maupun yang kita alami bersama.
Terima kasih untuk selalu memaafkan saya.
Diatas semua itu, terima kasih untuk kelahiran hingga kematian saya.With Love
Comments
Post a Comment